Skip to main content

Hewan Transgenik

 

Hewan Transgenik

 

Hewan transgenik adalah hewan dimana dengan sengaja telah dimodifikasi genome-nya, gen disusun dari suatu organisme yang dapat mewarisi karakteristik tertentu. Hewan transgenik dikembangkan dengan 3 cara, yaitu mikroinjeksi DNA, transfer gen dengan media retrovirus dan transfer gen dengan media sel cangkokan embrionik. Mikroinjeksi DNA dilakukan dengan melakukan injeksi langsung gen terpilih yang diambil dari anggota lain dalam spesies yang sama ataupun berbeda ke dalam pronukleus ovum yang telah dibuahi. Transfer gen dengan media retrovirus menggunakan retrovirus sebagai vector, kemudian menginjeksikan DNA ke dalam sel inang. DNA dari retrovirus berintegrasi ke dalam germ untuk bekerja. Transfer gen dengan media sel cangkokan embrionik diaplikasikan dengan menggunakan sequence DNA yang diharapkan muncul ke dalam kultur in vitro sel cangkokan embrionik. Sel cangkokan dapat menjadi organisme lengkap. Sel kemudian berikatan dalam embrio pada tahap perkembangan blastosit.

Tujuan dari hewan transgenik adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan produktivitas ternak

seperti konversi pakan, rataan, pertambahan berat badan, mereduksi kandungan lemak, meningkatkan kualitas daging, susu, wool secara cepat sehingga dapat mengurangi biaya produksi yang harus ditanggung konsumen.

  1. Meningkatkan kesehatan ternak

Aplikasi dari teknologi transgenik juga digunakan untuk memperbaiki kesehatan ternak. Beberapa pendekatan dilakukan untuk meningkatkan resistensi ternak terhadap suatu penyakit dan pembentukan antibodi.

  1. Bioreaktor untuk produk-produk biomedis

Ternak transgenik memegang peran panting dalam menghasilkan produk-produk untuk pengobatan penyakit. Ribuan orang mengambil keuntungan dari produk-produk biomedik yang dihasilkan. Dari ternak transgenik. Contoh : insulin untuk pengobatan penyakit diabetes dan oksitoksin untuk merangsang kelahiran, dll.

 

Dari keuntungan-keuntugan yang telah di sebutkan diatas produk hewan transgenik masih menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat umum dan para ilmuawan khususnya diantaranya adalah :

  1. menyebabkan berbagai masalah yang berkaitan dengan keselamatan hewan. Masalah yang umunya terjadi adalah kehamilan yang terlambat atau terlalu dini, kematian saat kelahiran, jarak kematian setelah kelahiran yang singkat, masa hidup yang singkat, obesitas dan berbagai macam cacat tubuh.
  2. Resiko utama adalah kepunahan dari jenis hewan alami, hal ini dikarenakan manusia terus mengembangbiakkan hewan hasil rekayasa sehingga hewan alaminya mulai tersisihkan kemudian punah.
  3. Keseimbangan alam lain yang terganggu adalah rantai makanan dan seleksi alam, di mana yang dapat  bertahan hidup hanya hewan hasil rekayasa.
  4. Hewan transgenik yang dilepaskan ke alam bebas juga diperkirakan dapat menyebabkan mutasi alam, terutama apabila gen yang disisipkan dapat berpindah kepada organisme lainnya.
  5. Dampak lain juga terdapat pada bidang sosial dan politik. Akan terjadi kesenjangan sosial antara negara yang maju dan menggunakan pangan transgenik dan negara berkembang. Hal ini juga akan memicu ketergantungan pangan oleh negara berkembang terhadap negara maju. Secara politik, ketergantungan ini dapat merugikan negara-negara berkembang. Masalah sosial-politik ini dapat memicu kembali masalah negara barat dan negara timur.

KONTROVERSI TANAMAN TRANSGENIK

Rekayasa genetika merupakan salah satu contoh kemajuan dibidang bioteknologi dan produknya saat ini sudah banyak dikomersilkan dikalangan masyarakat seluruh dunia tidak terkecuali di Indonesia. Produk hasil rekayasa genetika atau biasa disebut PRG baik tanaman ataupun hewan masih menjadi isu hangat yang selalu diperbincangkan oleh berbagai kalangan, hingga memicu timbulnya pro dan kontra mengenai masalah tersebut. Di Indonesia sendiri tanaman transgenic sudah banyak yang dibudidayakan bahkan dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat. Tanaman hasil rekayasa genetika sendiri dibuat sebagai jawaban atas berbagai masalah pangan maupun pertanian di Indonesia. Dengan rekayasa genetika, produk tanaman baik untuk pangan ataupun non pangan memiliki tingkat kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman non rekayasa genetika.
Di era revolusi industri 4.0 tentunya banyak sekali produk-produk hasil rekayasa genetika yang akan kita temukan di pasaran. Perubahan zaman yang semakin canggih tanpa diiringi dengan peningkatan pengetahuan masyarakat membuat isu-isu terkait produk tanaman rekayasa genetika berkembang luas dikalangan masyarakat. Banyak orang yang berspekulasi bahwa produk tanaman rekayasa genetika memiliki dampak buruk di berbagai bidang, seperti berbahaya untuk kesehatan, ekonomi hingga pengaruhnya terhadap lingkungan. Faktanya isu negatif yang berkembang dimasyarakat belum dibuktikan secara ilmiah karena semua produk rekayasa genetika telah melalui berbagai tahap pengujian sebelum dilepaskan untuk masyarakat sehingga bisa dipastikan aman.
Salah satu contoh tanaman hasil rekayasa genetika yang sudah sering kita jumpai adalah tanaman jagung dan kapas yang disisipi gen Bt serta kedelai transgenik yang sering digunakan sebagai bahan baku tempe. Produk tanaman rekayasa genetika tersebut dianggap dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia seperti menyebabkan alergi, beresiko menyebabkan kanker dan berpotensi untuk membuat manusia menjadi resisten terhadap antibiotik. Masalah kesehatan tersebut jika terjadi dapat berdampak terhadap produktivitas manusia yang semakin menurun dan meningkatkan biaya untuk pengobatan sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi ekonomi seseorang. Selain itu
Dibidang sosial ekonomi, tanaman hasil rekayasa genetika cukup mendapat tentangan dari berbagai pihak karena dikhawatirkan tanaman transgenik ini dapat menyebabkan kesenjangan antara petani lokal dengan prusahaan besar. Hal ini dapat disebabkan karena belum adanya peraturan yang jelas bagi para petani apabila menanam tanaman transgenik sehingga dapat merugikan petani. Perusahaan besar akan mendapat keuntungan dari hasil penjualan tanaman transgenik dan membuat petani lokal kehilangan pasarnya. Sehingga diperlukan koordinasi yang tepat anatara perusahaan besar, pemerintah dan petani dalam menyikapi permasalahan tersebut sehingga semua pihak dapat mendapatkan keuntungan tanpa merugikan pihak lain.
Tanaman transgenik juga mendapatkan perhatian dibidang lingkungan. Bagi para ekologist atau orang-orang yang aktif bergerak untuk menjaga keutuhan lingkungan, tanaman transgenik merupakan ancaman yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Tanaman transgenic yang telah dimodifikasi materi genetiknya dikhawatirkan dapat menghasilkan gulma baru yang sulit dihilangkan sehingga dapat meningkatkan penggunaan pestisida yang berdampak buruk bagi lingkungan. Selain itu tanaman transgenik seperti jagung Bt dikhawatirkan dapat mematikan organisme non target seperti lava kupu-kupu, hal tersebut berdampak terhadap rantai makanan. Secara tidak langsung tanaman transgenik juga dapat menghilangkan sumber plasma nutfah yang ada karena adanya polusi gen sehingga diperlukan konservasi tanaman asli yang belum dimodifikasi untuk menjaga agar plasma nutfah nya tetap terjaga.
Setiap penemuan baru atau teknologi baru yang muncul pasti akan mendapat pro dan kontra dikalangan masyarakat luas. Pada dasarnya teknologi rekayasa genetika merupakan sebuah metode yang sangat bermanfaat bagi manusia apabila dikerjakan oleh orang yang bertanggung jawab. Karena untuk setiap penelitian yang berhubungan dengan mahkluk hidup pastilah terdapat aturan atau etika yang harus ditaati oleh para peneliti. Sehingga sebagai masyarakat awam sudah sepantasnya kita lebih memperluas wawasan agar tidak mudah termakan hoax atau isu-isu negative yang belum tentu kebenarannya.