Skip to main content

Potensi Mikroalga sebagai Sumber Pangan Fungsional di Indonesia

Oleh : Isro’ul

Beberapa tahun trakhir, dunia mengalami gejolak krisis pangan, energi, dan air bersih. Banyak negara besar mengalami penurunan angka pendapatan, sementara populasi penduduk semakin meningkat. Krisis di Eropa, Amerika, dan beberapa negara belahan lain memberikan dampak secara tidak langsung kepada kebutuhan pangan dunia, termasuk Indonesia. Harga pangan semakin naik seiring kenaikan beberapa bahan baku lainnya. Kasus malnutrisi di Indonesia terus naik. Diperlukan pengembangan sumber pangan fungsional yang dapat diproduksi secara cepat, feasibel, sustainabel, dan memeunhi kebutuhan nutrisi bagi masyarakat. Mikroalga adalah tanaman bersel satu yang tumbuh di air dan menggunakan reaksi fotosintesis untuk menghasilkan biomassa. Mikroalga seperti Spirulina platensis memiliki kandungan protein yang tinggi. Mikroalga ini juga memiliki kandungan vitamin sertam mineral yang berguna bagi kesehatan tubuh.

Mikroalga sebagai Sumber Protein

Dalam kurun dekade belakangan ini mikroalga dapat dijumpai di pasaran dalam bentuk tablet, kapsul, minuman kaleng, permen, dan dicampur dalam pangan lain untuk meningkatkan nilai nutrisi dan rasanya. Mikroalga yang sering dijumpai adalah dari jenis Arthosphira, Chlorella, D. salina, dan A, phanizomenon flos-aquae. perbandingan kadar protein, karbohidrat dan lipid dari mikroalga yang diproduksi komersial dibanding sumber makanan lain. S. platensis (Arthospira) merupakan mikroalga dengan protein tertinggi dibanding sumber lain. Arthospira, atau yang sering disebut sebagai Spirulina, digunakan sebagai pangan karena nilai nutrisi dari proteinnya yang cukup tinggi. Lebih jauh lagi, mikroalga ini memiliki senyawa yang dapat menyehatkan tubuh. Diantaranya adalah: mengurangi risiko hiperlipidemia, hipertensi, menjaga dari penyakit gagal ginjal, meningkatkan kinerja lactobasilus dalam tubuh.

Mikroalga sebagai Sumber Vitamin

Selain menjanjikan sebagai sumber pangan, mikroalga juga dapat digunakan sebagai sumber vitamin yang baik digunakan sebagai asupan tambahan yang diperlukan oleh tubuh. Salah satu mikroalga yang dapat mensintesis senyawa alami menjadi sumber vitamin adalah jenis Spirulina, Nanochloropsis, Chlorella, dan beberapa jenis mikroalga lainnya. Nanochloropsis dapat dimanfaatkan sebagai sumber vitamin E dengan memodifikasi kondisi pertumbuhannya. Nanochlorpsis oculata adalah mikroalga air laut uniseluer dari kelas Eustigmato phycae. Mikroalga lain seperti Spirulina juga dapat menyediakan vitamin B12.

Mikroalga sebagai Sumber Pigmen Alami

Mikroalga merupakan sumber pigmen alami yang aman digunakan sebagai zat aditif maupun dalam kosmetik. Beberapa mikroalga dapat menghasilkan pigmen selain dari pigmen hijau yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Beberapa pigmen yang umum digunakan dalam industry adalah klorofil, phycobiliprotein dan karotenoid. Klorofil dapat dijumpai di hampir semua mikroalga, dan tersusun atas lebih dari satu jenis klorofil, seperti klorofil-a, klorofil-b, klorofil-c, -d dan –e. klorofil-a adalah klorofil primer yang hampir dijumpai di sebagian besar mikroalga, dan merupakan satu satunya klorofil yang dimiliki mikroalga jenis cyanobacteria serta rhodophyta. Sumber pigmen lainnya adalah fikosianin. Fikosianin merupakan pigmen biru yang kebanyakan ditemui pada jenis cyanobakteria. Lebih jauh lagi, fikosianin dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan, anti-kanker, dan pewarna pada industri farmasi, permen, soft drink, kosmetik, dan beberapa industri berbasis bioteknologi lainnya.

Mikroalga sebagai Pangan Fungsional Nasional

Indonesia merupakan negara tropis yang dilalui garis khatulistiwa dan hanya memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Kondisi ini membuat tanaman fotosintesis, termasuk mikroalga, dapat tumbuh subur karena mendapat sinar mathari yang cukup, yakni rata-rata 12 jam per hari untuk area. Selain itu potensi laut yang ada di Indonesia membuat potensi mikroalga ini menjadi semakin besar jika dibudidayakan di sekitar daerah pantai. Mikroalga memiliki waktu panen yang cukup cepat jika dibandingkan dengan tanaman lain. Berdasarkan Tabel 4, produktivitas dan kandungan protein dari Spirulina platensis cenderung tinggi dibanding komoditas lain. Namun demikian, masih diperlukan peran serta pemerintah dan swasta untuk memproduksi mikroalga untuk  pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Minimnya data mengenai kebutuhan konsumsi dalam negeri, serta minimnya informasi mengenai produk mikroalga sebagai pangan fungsional merupakan beberapa kendala produk tersebut cenderung tidak banyak dieksplore di dalam negeri. Sehingga selama ini kebutuhan mikroalga cenderung dipasok dari beberapa negara lain.

Prospek Masa Depan

Mikroalga sebagai potensi sumber ketahanan pangan nasional hendaknya terus digaungkan guna meningkatkan kebutuhan gizi dalam negeri. Trend di masa depan tentang mikroalga di Indonesia diramalkan akan terus cerah mengingat produk tersebut masih diperlukan untuk kebutuhan suplemen bagi kondumen dengan penghasilan di atas rata-rata. Potensi produksi mikroalga di Indonesia cukup tinggi mengingat daerah di Indonesia dilalui garis khatulistiwa dan memiliki kondisi lingkungan yang bagus. Trend kedepan, diprediksi bahwa Indonesia mampu memproduksi mikroalga dalam jumlah yang cukup besar, dengan biaya lebih murah, dan produk yang dihasilkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *